Solusi kebangsaan melalui komunikasi pastoral(KOMPAS)

Oleh: John Taufan | 14 February 2011| 23:28 WIB Tanpa kita sadari, ternyata menjadi negara demokrasi sangat mahal harganya bahkan tak ternilai. Betapa banyak sudah biaya, harta, tenaga bahkan nyawa warga indonesia menjadi korban, sebagai dampak dari proses demokrasi. Menjadi negara demokratis sudah menjadi pilihan kita,kita tidak boleh mundur walaupun proses menuju sebuah negara demokrasi ala indonesia sangat berat dan panjang. Demokrasi tidak hanya sebatas pemilukada atau demonstrasi, masìh banyak syarat syarat yang harus dipenuhi sebagai bangsa agar pola pikir kita memberi konstibusi yang positif dalam membangun indonesia yang raya, misalnya mengembangkan sikap nasionalis dihati warga indonesia. Ekspresi masyarakat dalam berbagai hal sangat berkembang dalam era saat ini, bahkan cenderung melewati batas batas toleransi yg bisa ditolerir oleh pihak lain. Dalam kasus tertentu, terkadang ekspresi yang berlebihan mendapat protes dari pihak lain sehingga terjadi kekacauan yang bisa mengganggu lingkungan sekitarnya, bahkan bila tidak ada solusi akan terus merambat menjadi persoalan komunitas dan seterusnya. Generasi saat ini tentunya berbeda dengan generasi yang lalu, majunya teknologi informasi dan komunikasi serta era demokrasi saat ini membuat generasi sekarang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luastentang berbagai hal, namun sangat jarang yang bisa mengolah pengetahuannya dengan tepat, protes, marah, orasi semuanya tidak salah, tapi ukurannya adalah hukum dan nilai sosial. Protes, hujatan, orasi dapat dikatakan sukses jika anda tidak menjadi tersangka atau tidak melanggar norma sosial. Bangsa indonesia saat ini terkesan sangat sensitif, mudah terprovokasi, untuk itu hendaknya para tokoh dan pemimpin yang tentunya memiliki daya kearifan yang lebih dari masyarakat umum dapat menjadi panutan dan penenang ketika suatu kelompok sangat emosional ketika menghadapi persoalan yang berat sekalipun, melalui komuniksi pastoral atau pengembalaan atau dengan rendah hati dan penuh kedamaian mendekati dan menyadarkan anggotanya bila mengalami situasi berat yang mengancam kerukunan dan toleransi antara sesama warga negara. Para tokoh juga harus memiliki wawasan external agar para anggotanya bisa memiliki wawasan yang luas tentang keanekaragaman agama, suku di indonesia bahkan dunia, juga segala hal lain diluar rutinitas yang ditekuni setiap harinya agar tercipta rasa menghargai kelompok lain karena mengetahui. Demikian juga halnya media masa, kususnya televisi, dalam menyajikan sinetron atau film, sebaiknya jangan terlalu dominan memperkenalkan budaya, bahasa tertentu agar bangsa ini juga dapat mengenal budaya lain, agama lain, karena semua tayangan sinetron saat ini terlalu dominan memperkenalkan daerah tertentu, yaitu jakarta dan jawa. Terlepas dari semuanya, kerukunan abadi yang kita damba tidak akan dapat dipertahankan tanpa kerelaan kita semua untuk sungguh sunguh mau iklas dan tulus menghargai sebuah ketentraman.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s