ANTARA ISU POLITIK DAN TEROR BOM

Setiap ledakan bom adalah sebuah tragedi!!!!

Walaupun bangsa kita telah berulang kali mengalaminya baik skala kecil maupun berskala besar, bukan berarti ledakan bom di gereja betel injil sepenuh di solo ini merupakan hal yang biasa saja karena bangsa kita terlalu sering mengalaminya dan beberapa hari kemudian dilupakan.

Banyak pihak dengan begitu mudahnya menganalisa bahwa setiap ledakan bom ada korelasi yang signifikan terhadap isu politik nasional yang sedang ramai diperbincangkan media dan menuding bahwa penguasa adalah dalangnya.

Apakah analisa simpel ini benar?

Adanya gerakan radikal dinegeri kita yang selalu mengancam keutuhan persatuan bangsa kita dengan teror dalam berbagai bentuk merupakan sebuah fakta.

Dan bahwa adanya tuntutan agar pemerintah segera memperbaiki situasi politik, ekonomi, hukum, keamanan serta mengungkap kasus korupsi di negeri ini juga adalah merupakan suatu fakta.

Apabila informasi dan data dari kedua fakta tersebut di olah atau dianalisa secara simpel tanpa menggunakan landasan yang tepat dan cenderung tendensiun maka hasilya jug akan cenderung subyektif sesuai dengan keinginan tokoh yang mengemukakannya, baik itu tokoh pro maupun anti pemerintah. Dan perdebatan tidak akan ada hentinya sampai tiba – tiba tedengar bom lagi atau kerusuhan lagi.

Terorisme tidak bisa di atasi dengan tindakan represif terus menerus karena selain biayanya besar, akibatnyapun sangat meresahkan masyarakat dan masyarakat menjadi tidak tentram dalam kehidupan sehari harinya.

Pemerintah juga jangan reaktif dalam menyikapi tuduhan bahwa setiap ada ledakan bom adalah upaya pengalihan isu atau oleh pemerintah terhadap issu politik yang menerpa para penguaasa atau pejabat. Justru hal ini sebaiknya digunakan sebagai bahan untuk instopeksi diri dalam mengevaluasi kebijakan atau tindakan yang ditempuh selama ini.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa penulis, penulis tidak sependapat bila setiap ada kasus bom atau kerusuhan adalah merupakan upaya pengalihan issu oleh pemerintah. Teror bom memang selalu ada dan selalu mencari moment yang tepat dalam melaksanakan aksinya, moment yang tepat yaitu ketika pemerintah lemah dan lengah.

Salah satu hal yang dapat membuat pemerintah lemah dan lengah adalah ketika issu – issu panas politik yang menjadi agenda utama. Apa lagi bila isu tersebut mengarah kepada pusat kekuasaan, tentunya segala upaya dan daya tentunya cukup terkuras dalam mengcounter issu politik tersebut. Hal ini tidak salah asalkan jangan berlarut – larut sebab masalah lain menanti penanganan dan perhatian penguasa..

Seperti kita ketahui akhir akhir ini issu yang menerpa jajaran kabinet, partai penguasa dan legislatif sangat intens di media massa dan menjadi topik dalam percakapan di masyarakat (kasus nazarudin, antasari, badan anggaran, kasus dugaan korupsi di departemen dll), hal ini tentunya sadar atau tidak cepat atau lambat akan melemahkan beberapa konsentrasi pemerintahan dalam hal keamanan atau pengawasan. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah daya tahan atau resistensi ketahanan pemerintah atau aparat kita terhadap ancaman menjadi melemah dan situasi inilah yang dimanfaatkan oleh teroris yang memang telah siap kapanpun dan dimanapun untuk beraksi. Bukan saja terhadap ancaman bom, tentunya juga akan mengancam bidang – bidang lain.

oleh sebab itu penulis menyarankan agar setiap permasalahan atau isu apa pun harus di tindak lanjuti secara cepat dan cermat oleh pemimpin, dengan melakukan identifikasi secermat mungkin terhadap masalah yang dihadapi, karena bila salah dalam mengidentifikasi masalah apalagi adanya unsur merekayasa dalam mengidentifikasi masalah demi tujuan politik tertentu, maka solusi akan berlarut larut atau solusi tidak tercapai dan yang lebih parah adalah bukannya solusi yang diperoleh tapi masalah baru yang datang.

Jadi syarat untuk melawan teroris adalah bahwa pemimpin atau penguasa harus kuat dengan jalan mendapat dukungan penuh oleh masyarakat. Dukungan akan diperoleh bila kewibawan ditegakkan yaitu tegas dan cermat dalam penuntasan kasus yang menjadi perhatian masyarakat dan tidak bertele – tele. Karena jika bertele – tele issu politik akan menjadi komoditi pihak tertentu.
yang pada akhirnya melemahkan kekuasaan.

Dengan demikian pemerintah bukanlah pelaku pengalihan issu tapi issu menyebabkan pemerintah lemah. Dan kelemahan ini dimanfaatkan oleh teroris.

Salam,
me…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s