EBONI PRIMADONA ILLEGAL LOGGING

Eboni primadona illegal logging
Oleh: M. Noor Korompo
Sejak masa pendudukan Jepang, kayu eboni sudah menjadi komoditas yang mendatangkan untung bagi pengusaha kayu. Di era 70-an kayueboni yang tersebar di hutan Sulawesi Tengah (Sulteng) masih dalam wilayah kerja hak pengusahaan hutan (HPH). Eksploitasi dan penebangannya sulit dikendalikan karena para pemain kayu ingin mencari keuntungan yang besar.
Kayu eboni seakan tidak pernah sepi dari masalah. Karena itu pada 1990-an penebangannya mulai dibatasi. Namun, malahan penebangan liar makin gencar, karena tingginya harga kayu ini. Apalagi pasarnya semakin meluas sampai ke China. Nilainya telah mencapai rata-rata Rp20 juta/m3hingga Rp25 juta/m3.
Ketika operasi pembalakan liar dilakukan, eboni tetap menjadi kayu ‘malam’, lantaran warnanya yang hitam bergaris-garis putih ini hanya bisa digerakkan dari hutan pada malam hari. Tentunya untuk menghindari jeratan petugas. Hanya saja memang pelanggaran seperti ini sulit diberantas. Bahkan banyak oknum petugas yang terlibat sindikasi penyelundupan ke Malaysia Timur.
Perdagangan illegal logging kayu eboni ke Malaysia bukan rahasia lagi. Apalagi letak geografis Sulteng dengan negara tetangga itu hanya dibatasi selat Makassar yang juga jalur perdagangan kayu malam ke Tawau, Malaysia Timur.
Para cukong kayu eboni di Tawau hilir mudik ke Palu, Sulteng, untuk melakukan kontak dengan para pelaku pembalakan liar. Jaringan ini beroperasi pada waktu-waktu tertentu seperti memanfaatkan situasi konflik di Poso.
Terbukti, awal pekan ini, sebanyak 773 unit eboni asal Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) yang akan diselundupkan ke Malaysia digagalkan TNI AL.
Komandan Pangkalan TNI AL Palu Letkol (Laut) Djamaluddin Malik mengatakan sekitar 20 kubik kayu eboni yang diamankan Jumat pekanlalu, telah diserahkan ke Pemkab Parimo melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) daerah itu.
Setelah dilakukan pengukuran dan penghitungan terhadap barang bukti yang ditaksir bernilai Rp1,5 miliar, kayu tersebut diamankan di Kantor Dishutbun Parimo yang selanjutnya diserahkan ke Polres setempat untuk proses hukum lebih lanjut.
“Seorang nahkoda dan empat orang anak buah kapal yang kini diamankan di Pos AL Parigi jugaakan diserahkan ke pihak kepolisian,` kata Djamaluddin.
Dia menambahkan Kapal Motor (KM) Usaha Baru yang mengangkut kayu selundupan tersebut masih dalam pengamanan anggota TNI AL. Pengamanan dilakukan ketika kapal ituberlabuh di peraiaran desa Sirenja Kecamatan Apibabo Kabupaten Parimo Jumat pekan lalu. Saat diamankan, kapal motor asal Sulawesi Selatan itu baru selasai memuat ratusan penggal kayu hitam yang akan diselundupkan ke Tawau, Malaysia.
Hal yang sama pernah terjadi beberapa tahun lalu. Kapal Layar Motor (KLM) Tunas Mas tujuan Tawau, Malaysia berkapasitas 35 gross ton ditangkap Kapal Perang RI (KRI) Mandau di Perairan Sulawesi bagian utara karena menyeludupkan kayu jenis ini tanpa dokumen.
KLM Tunas Mas bersama delapan anak buah kapal beserta nakhodanya dikawal menuju pangkalan TNI Angkatan Laut Tolitoli, Sulteng, untuk diproses. Kapal beserta 20 kubik kayu hitam dengan berbagai ukuran, diamankan di dermaga Tolitoli. Delapan anak buah kapal (ABK)-nya, kini disel di pangkalan angkatan lautTolitoli.
Kapal kayu tersebut memuat eboni dari Desa Toribulu, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong. Kapal yang dinakhodai Halimin,40, ini, hendak berlayar ke Tawau, Malaysia, Gorontalo dan Manado. Setelah hampir empat hari berlayar, KLM Tunas Mas ditangkap KRI Mandau bernomor lambung 621 yang berlayar dari Bitung ke Ambalat.
Penataan eboni
Pemda Sulteng memiliki keinginan politik untuk menata kembali pemanfaatan eboni secara terkendali mulai 2007. Ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dari hasil hutan.
Helmy D. Yambas, Wakil Ketua DPRD Sulteng Bidang Ekonomi, mengatakan penataan kayu eboni dilakukan untuk mendukung masuknya industri barang jadi eboni dan mendorong industri lama untuk melaksanakan kegiatan lagi. Namun, katanya, pemda harus melalukan evaluasi penataan kayu eboni dengan prinsip penebangan terkendali agar bisa lebih dipertanggungjawabkan.
Menurut dia, kuota kayu eboni yang diberikan oleh pemda kepada industri tidak lebih dari 5.000 m3 setiap tahun. Jumlah itu tidak semua bisa digunakan oleh produsen. Pasalnya, banyak produsen kayu ini yang gulung tikar.
Salah satu perusahaan yang tidak bisa melaksanakan aktivitas lagi yakni PT Sulawesi Eboni Sentra (SES). Padahal, perusahaan ini memiliki daya serap tinggi. Situasi ini disebabkan musibah kebakaran dua bulan lalu.
Helmy mengatakan selama ini ekspor eboni lebih besar ke Taiwan. Sedangkan ke Jepang, jumlahnya sangat minim. Padahal prospek ekspor eboni dalam bentuk barang jadi sangat potensial.
Jepang, katanya, adalah pasar lama kayu eboniyang tidak disentuh lagi setelah pemerintah menghentikan pasok dalam bentuk logs dan setengah jadi.
“Industri yang banyak menyerap kayu eboni dari Sulteng selama ini adalah Taiwan karena investornya melakukan investasi industri ke Sulteng. Saat ini banyak industri yang didirikan oleh pengusaha Taiwan yang terancam gulung tikar,” tegasnya.
Dia menambahkan mulai 2003 pihaknya melarang penebangan kayu baru. Kayu eboni yang ada di industri saat ini adalah sisa dari hasil tebangan kayu lama dan kayu yang dibeli dari hasil sitaan oleh negara.
Penebangan kayu liar, termasuk eboni, di kawasan ini, katanya, masih tetap marak. Hal ini disebabkan luasnya areal kawasan hutan di wilayah ini. Sedangkan kemampuan polisi jagawana sangat terbatas. “Kami sudah mematok agar masing-masing daerah Dati II meningkatkan pengawasan. Ini juga ditekankan oleh Dirjen Pengusahaan Hutan,” tegasnya

sumber: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=5622&coid=1&caid=56&gid=2

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s