Sampingan

HANYA JOKOWI DAN PRABOWO

Demokrasi adalah cara moderen dalam menentukan pemimpin, dimana metode yang digunakan adalah dengan cara – cara yang beradab dan beretika dan menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Sementara jaman dahulu penentuan pemimpin cenderung menggunakan “hukum rimba”, dimana metode ini bertolak belakang dengan prinsip demokrasi yang diharapkan.

Sangat disayangkan, dalam kenyataannya praktek demokrasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan oleh karena situasi dan kondisi yang tidak ideal dalam menerapkan sistim demokrasi tersebut seperti: kemiskinan yg masi banyak, tingkat pendidikan yang masih rendah, moral dan etika yang rendah dan sebagainya.

Bangsa Indonesia telah memilih sistim politiknya yaitu demokrasi pancasila, karena sistim politik yang lain seperti sosialis, komunis, militeristik, monarki, otoriteristik dianggap tidak cocok untuk kondisi indonesia.

Dalam era soeharto, praktek demokrasi di Indonesia seolah – olah ada dan tiada, karena praktek demokrasinya masih banyak kekurangannya ditandainya dengan pengontrolan kegiatan politik yang bersifat sentralistik, sehingga mengakibatkan masyarakat tertekan dan meledaklah peristiwa Mei’98.

Mencapai tahap ideal dalam berdemokrasi tidaklah mudah, negara yang majupun terkadang masih belum mampu meredam gejolak masyarakatnya yang ditimbulkan oleh kegiatan – kegiatan tahapan demokrasi.

Saat ini bangsa indonesia sedang mempersiapkan diri melakukan tahapan kegiatan demokrasi, sebagai puncak dari rangkaian kegiatan demokrasi nasional periode lima tahunan, yaitu pemilihan peresiden.

Pilpres kali ini tergolong istimewah karena ini pertama kalinya pilpres indonesia secara langsung dan hanya terdapat dua calon yaitu Prabowo dan Jokowi.

Kita tentunya bangga, karena ini menunjukkan bahwa praktek demokrasi dinegara kita telah memasuki level tertentu dalam kemampuan berdemokrasi didunia.

Fenomena ini pula berdampak penghematan biaya karena jumlah capresnya tidak banyak dan rangkaian ketegangan politik dimasyarakat tidak panjang oleh karena tidak adanya putaran kedua dan ketiga dalam menjaring memenang.

Yang perlu dicermati dan diwaspadai terhadap kondisi dimana hanya ada dua capres adalah bahwa bangsa indonesia terbagi dalam dua kubu, dimana masing – masing kubu memiliki power yang sangat besar, power yang besar ini akan sangat beresiko bisa dikelola dengan cara – cara yang keliru, namun sangat menguntungkan bagi masa depan indonesia, bila pengelolaan dua kekuatan besar ini dilakuakan dengan benar. Dikatakan beresiko karena, cara berdemokrasi bangsa indonesia dalam berbagai kegiatan pilkada lokal, masih ditandai dengan gejolak massa pendukung dan penentang yang membahayakan kerukunan dan perdamaian suatu wilayah. Himbauan kandidat, pimpinan daerah, alim ulama tidak dihiraukan sehingga mengakibatkan kerugian moril maupun materil yang tidak sedikit.

Hal – hal seperti diatas ini terjadi disebabkan oleh berbagai macam faktor, diantaranya: tingkat pendidikan masih rendah, kemiskinan, sifat egois, kesadaran toleransi yang masih rendah, kemerosotan moral dan tidak mengindahkan ajaran agama masing – masing dan sebagainya. Perlu penulis tekankan bahwa dua kubu ini sangat rentan terhadap hasutan, sebab masing – masing merasa kuat dan memang kuat!.

Lalu, apa solusinya? Bagaimana cara mengelolanya? Siapa yang berperan untuk mengelola situasi dan kondisi seperti ini?

Dalam menentukan mitigasi, tindakan prefentiv dan solusi dalam bidang sosial politik tidaklah mudah, karena bidang sosial politik setiap detik berubah, berbeda dengan bidang eksakta yang ada periode atau jeda dalam perubahannya. Seorang ahli sosiologi dan ahli politikpun terkadang tidak sanggup mencari solusi suatu gejolak sosial akibat politik yang salah kelola.

Bangsa indonesia jangan putus asa, semua masalah ada solusinya, pilar – pilar masyarakat dan pilar negara harus bersatu padu dalam menjaga dan mengelola sikap saling menghargai dan toleransi antara sesama kubu dalam pilpres indonesia 2014 ini. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemerintahan, tokoh negara adalah harapan bangsa indonesia dalam menjaga kerukunan selama kampanya maupun pasca pilpres nanti. Pertarungan besar ini membutuhkan wasit yang besar pula.

Jadi, hendaklah para tokoh formal maupun tokoh informal sudi menjadi wasit yang hebat! Demi keutuhan dan keabadian Negara Indonesia dan Bangsa indonesia. Salam!

Johntaufan,
2 Juni 2014
salam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s